Cerita Etnis Rohingya di Makassar (2): Dari Penjara ke Penjara, Hingga Mahir Berbahasa Pertiwi

5 September 2017 13:50
Muso dan Abu, warga beretnis Rohingya yang kini mengungsi di Makassar.(Foto: Prayudha/inikata.com)

MAKASSAR, INIKATA.com– Tak banyak yang tahu, cerita warga Rohingya saat pertama kali masuk ke Indonesia, kehadirannya tak langsung bisa diterima, bahkan mereka harus berpindah-pindah dari penjara ke penjara.

Muso, pria dengan paras brewokan ini menjelaskan kisahnya menyebrangi lautan dengan kapal kecil untuk terhindar dari pembantaian. Dia berkisah, saat konflik pecah di Myanmar pada tahun 2012 silam, dia bersama warga beretnis Rohingya lainnya memilih melarikan diri.

Tak adanya paspor membuat dia harus menggunakan transportasi laut dengan menggunakan kapal yang jauh dari kata layak. Awalnya dia terdampar di negara Thailand, dan meneruskan perjalan ke Australia.

Akan tetapi, ditengah perjalan dia harus ditahan di Indonesia. Disinilah babak baru kehidupan mereka hidup dari penjara ke penjara. Tanjung Pinang merupakan tempat pertama kali dia merasakan dinginnya dipenjara.

“Dari aceh dipenjara.Tanjung Pinang, bandung, Jakarta macam-macam tempat kita dipenjara,” kata Muso saat ditemui Inikata.com, kemarin (5/9/2017).

Alasan mereka dipenjara lantaran tidak mengantongi surat isin dari Persatuan Bangsa-bangsa (PBB). Mengurus surat itu tidak begitu mudah, apalagi Muso dan rekannya masih trauma dengan konflik di kampungnya.”1 tahun 8 bulan kita menetap di Negara lain baru bisa mengurus isin seperti itu,” jelas Muso.

Usai menjalani hidup di penjara, Muso kini talah mengantongi isin dari PBB hingga berada di Kota Makassar. Tapi masalah lainnya pun muncul, mereka tak bisa berbuat apa-apa, terlebih saat itu mereka tak mengerti bahasa Indonesia.

Muso mengaku, sebanyak 220 orang warga Rohingya di kota Makassar kebanyakan belajar berbahasa Indonesia secara autodidak, atau mendengar bahasa dari orang sekitar dan mulai memahaminya pelan-pelan.

Selain itu, Muso juga mengaku punya teman yang sudah hidup lama di Malaysia, terkadang diapun belajar dengan mereka, walau sudah mulai bisa berbahasa Indonesia, tapi masih terdengar kaku.

“Kita pakai bahasa dsini, kita makan disini, kita hidup disini, dan teman teman disini, dan sudah hidup 6,7, 8 tahun disini,” sebut Muso.

Saat ini, Muso bersama 220 rekannya tengah dalam keadaan sulit, pasalnya mereka tak hidup di Makassar dalam kondisi yang sama seperti masyarakat umumnya, mereka tak diisinkan bekerja dan mencari nafkah dengan cara lain.

” Kalau ditawari jadi warga negara kami mau sekali, tapi peraturan disini tidak bisa begitu,” akunya.(**)