Eksotisme Rammang-rammang dan Cerita Haru Perjuangan Warga Melawan Pabrik (I)

4 September 2017 19:42
Rammang-rammang.(Foto: Bakri)

*Tak Berfikir Opurtunis Demi Warisan ke Anak Cucu

INDAHNYA gugusan karst yang berbaris rapi, menjulang seolah menantang langit. Dibalik tegaknya, tak banyak yang tau, karya Tuhan nan mempesona ini, diraih dengan tetesan peluh dan air mata warganya yang berjuang tanpa kenal lelah.

Muhammad Bakri
Maros

Andai saja masyarakat di dusun Rammang-rammang, desa Salenrang, Kecamatan Bontoa berdiam diri kala itu. Mungkin, Destinasi wisata yang telah memukau jutaan mata manusia ini, tak akan pernah ada. Bisa jadi, Rammang-rammang hanyalah lautan debu dan deru mesin yang mengoyak paku bumi.

Pada periode tahun 2007 hingga 2009 silam, tiga perusahaan kaliber raksasa dari Tiongkok pernah diizinkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengeruk kekayaan alam di dusun itu. Malahan, satu dari tiga perusahaan ini sudah sempat mengikis bebatuan kapur untuk dijadikan marmer.

Bukan perkara mudah mengusir tiga perusahaan tambang sekaligus dari Rammang-rammang. Banyak penggalan kisah duka yang tidak akan lekang bagi para pembuat sejarah perlawanan di dusun kecil itu. Perjuangannya bahkan, masih dilakukan saat ini, meski ancaman tambang sudah tak lagi nyata di pelupuk mata.

Adalah Muhammad Ikhwan atau yang akrab disapa Iwan Dento, menjadi salah satu lokomotiv gerakan saat itu. Ia adalah warga asli yang merasa terpanggil menjadi ‘pagar’ bagi tanah kelahirannya yang terusik gilasan ekskavator raksasa di masa itu. Ia berhasil menghimpun kekuatan sedikit demi sedikit, dan akhirnya bisa merobohkan congkaknya para cukong.

“Kurang lebih enam tahun kami berjuang melawan perusahaan yang juga dibekingi oleh Pemerintah kala itu. Mulai dari aksi demonstrasi hingga pada advokasi kebijakan kami jalankan bersamaan,” Kata Iwan saat ditemui kemarin.

Interval waktu yang cukup panjang dalam perjuangan itu, tidak menyulutkan konsistensi Iwan dan warga lainnya. Beberapa kali ancaman dan rayuan manis dari pemodal bersahut silih berganti. Namun, mereka tidak bergeming. Hanya ada satu di benak mereka: semua perusahaan tambang harus angkat kaki!

“Banyak hal yang memang membuat kita berfikir oportunis. Tapi kami tidak memilih jalan itu. Ini soal warisan ke anak cucu kita kelak yang harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan,” tandas pria kelahiran 10 Oktober 1980 Itu.

Benar saja, pada tahun 2013, tiga perusahaan tambang itu akhirnya mengibarkan bendera putih dengan dicabutnya Izin Usaha Pertambangan (IUP) oleh pemerintah yang juga keok menghadapi derasnya perlawanan rakyat di masa itu.

Meski, Rammang-rammang kini jadi primadona yang membuana. Namun, peluh dan air mata yang pernah tertumpah di sela-sela bebatuan karst yang menjulang, belum jua kering. Masih banyak pekikan nurani warganya tersusun rapi dalam benak, dan siap diteriakkan.

Selain masih dibayangi ancaman tambang, sangat besar kemungkinan, penduduk asli dapat ‘terusir’ dari tanah mereka. Disebabkan, perubahan wajah baru wilayah. Dari pertanian dan tambak, menjadi kawasan industri wisata. Sifatnya sama dengan jenis industri lain, dimana modal merajai segalanya.

“Perjuangan itu belum berakhir. Tidak ada jaminan, kelak karst-karst ini tidak dijamah lagi oleh para pemodal yang bisa membeli apa saja termasuk idealisme. Begitu juga dengan perubahan wilayahnya,” lanjut Iwan.(**)