Kisah Warga Rohingya di Makassar (1): Lari Dari Pembantaian, Terdampar di Pesakitan

3 September 2017 16:38
Musa dan Abu saat menceritan kisahnya di Rohingya, Myanmar.(Foto: Prayudha/Inikata.com)

MAKASSAR, INIKATA.com– Sore hari itu, di Wisma Rupa, Jalan Mappodang, dua keluarga dari suku Rohingya meratapi nasib, wajahnya lesu, matanya mengawang ke langit-langit. Begitu jelas dendam dari tatapannya.

Tidak banyak yang tahu, pengungsi suku Rohingya di Kota Makassar sebanyak 230 orang, mereka memilih meninggalkan Myanmar dengan menyebrangi lautan, agar terhindar dari pembantaian sadis di kampungnya.

Abu sayyeb bin abu Sarma, orang ini yang pertama kali penulis dekati sambil memperkenalkan diri, wajahnya penuh harap, walau nampak jelas rintihan dari binaran matanya. Ingatannya menyimpan ribuan tragedi pembantain di kampungnya.

Abu, begitu biasa dia disapa, memulai cerita saat dia berada di kampungnya, Wilayah Arkan yang dikenal di Myanmar dengan sebutan Waikain. Di kampung inilah suku Rohingya bermukim.

“Suku rohingya tidak ada dalam Negara Myanmar, tidak dianggap. Pemerintahan Myanmar membunuh, membakar kami, jadi sekarang Kita sudah di hancur,” Kata Abu dalam bahasa Indonesia yang tidak begitu lancar.

Diapun memilih kabur dari kampung halamannya, berbekal kapal kecil, Abu bersama Anaknya yang masih Bayi, Istri serta Ibunya memilih meninggalkan Myanmar karena tak mau menjadi korban gonoside (Pembumihangusan).

“Dari dulu sampai sekarang konflik agama. kalau kami punya myanmar (Mau kembali ke Myanmar). Tapi pembantaian terus terjadi disana, Itu namanya genoside,” lanjut Abu.

Tiba-tiba Seorang rekan Abu bernama Muso melanjutkan pembicaraan, Pria berperawakan Arab ini menceritakan kisahnya saat berada diatas kapal, awalnya mereka ingin berlabu ke Australia, tapi entah mengapa, mereka terdampar di Makassar.

Di Makassar, kehidupan mereka terbatasi, hingga terasa hidup di dalam penjara tak berdinding, mereka tak bisa bekerja untuk mencari uang, kehidupan merekapun antah berantah tak karuan

“Naik kapal dari Myanmar, awalnya mau ke Australia, akhirnya ke makassar dengan status pengungsi. tapi kami terbatasi juga selama tujuh tahun ini, kita tak bisa berbuat apa apa,” sahut Muso dengan nada penuh harap.

Kini, mereka yang berharap agar diberi hak sebagai Manusia yang bisa bekerkja untuk memenuhi kehidupan mereka. Sebab, rasa-rasanya tak mungkin untuk kembali ke Myanmar yang saat ini sedang memanas kembali.(Bersambung)