Anging Mamiri Residance Langgar Komitmen

5 Desember 2016 22:32

MAKASSAR – Perumahan Anging Mammiri Residance yang berada di Jalan Hertasning dinilai telah melanggar komitmen dengan pihak Pemerintah Kota Makassar.

Pasalnya, banyak fasilitas umum (Fasum) dan fasilitas sosial (Fasos) yang dijanjikan dan tertuang dalam rencana pembangunan di perumahan tersebut, namun belakangan bukannya diserahkan pihak pengembang justru dikomersilkan.

Atas dasar tersebut DPRD Kota Makassar telah mengeluarkan rekomendasi agar bangunan di atas fasum-fasos tersebut dibongkar kembali oleh pihak pengembang.

“Harus dilakukan pembongkaran, sebab telah keluar dari site plan saat kali pertama diajukan izin ke pihak pemerintah,” kata ketua Komisi A Bidang Hukum dan Pemerintahan DPRD Makassar, Abdul Wahab Tahir.

Menurut Wahab, pembongkaran mesti dilakukan bila tidak ada kesepakatan warga yang tinggal di area perumahan, untuk kemudian dijadikan dasar ke pemerintah kota, dalam hal ini Dinas Tata Ruang dan Bangunan (DTRB) untuk dilakukan revisi site plan.

Selain itu, pihak pengembang dalam hal ini PT Nusa Sembada Bangunindo (NSB) yang merupakan anak perusahaan dari IMB Group mesti mencari solusi atas permasalahan yang dirasakan warga di kompleks tersebut. Termasuk soal suplai air dan listrik yang kerap dikeluhkan warga.

“Begitu juga dengan fasilitas ruang publik yang dijanjikan pengembang kepada konsumen,” ujar Wahab.

Anggota komisi A lainnya, Abdi Asmara menambahkan, fasum-fasos yang telah dijanjikan pihak pengembang harus cepat diserahkan.

Ketua Fraksi Demokrat itu juga meminta agar pemerintah aktif mendesak seluruh pengembang yang belum menjalankan kewajibannya tersebut sebagaimana yang diatur dalam undang-undang.

“Tidak ada alasan bagi pengembang untuk tidak menyerahkan fasum-fasosnya. Pemerintah juga tidak akan mungkin melakukan perawatan drainase di perumahan itu kalau asetnya belum diserahkan. Sehingga masalah drainase yang tersumbat dan selama ini dikeluhkan warga menjadi tanggung jawab pengembang untuk memperbaikinya,”kata Abdi.

Anggota Komisi C DPRD Kota Makassar, Rahman Pina menilai bahwa perumahan Anging Mammiri Residence yang terletak di Jalan Aroepala ilegal. Pasalnya, bangunan didirikan di atas fasum-fasos. Perumahan elit milik pengusaha properti ternama Idris Manggabarani ini dianggap bermasalah.

RP sapaan akrab Rahman Pina menjelaskan, selain mengalih fungsikan fasum-fasos tanpa seizin warga dan pemerintah, perumahan yang dibangun PT. NSB ini juga tidak memiliki izin membangun. Tak hanya itu, PT. NSB juga telah menjajikan beragam fasilitas untuk menggaet konsumen serta menghalalkan segala cara, termasuk dengan iming-imingan fasilitas kolam renang, taman baca dan ruang terpadu anak, namun fasilitas diperumahan tersebut tak kunjung ada hingga saat ini.

“Tidak ada wewenang pihak pengembang untuk memindahkan ataupun merubah fasum-fasos tanpa seizin dari pihak terkait. Ini sudah jelas-jelas melanggar aturan dan pembohongan publik,” ungkap RP.

Wakil Ketua Komisi C DPRD kota Makassar, Fasruddin Rusli yang juga menjadi korban PT NSB mengaku kecewa dengan pihak pengembang (PT NSB) yang telah melakukan pembohongan publik. Pasalnya, apa yang telah dijanjikan oleh PT NSB selaku pengembang, sangat tidak sesuai dengan harapan pembangunan yang dipromosikan ke konsumen kala itu, dalam hal ini pihak PT NSB telah merubah site plan bangunan.

Terpisah, Direktur Utama IMB Group, Idris Manggabarani mengatakan bahwa segala keluhan yang dirasakan penghuni bukanlah menjadi tanggung jawab pengembang itu sendiri. Menurutnya, penghuni perumahan Anging Mammiri telah bersepakat sebelumnya untuk mengambil alih kewenangan terkait fasum-fasos seperti mushallah, pemungutan sampah, drainase, lampu jalan dan sebagainya. “Sudah ada drainase dan mushallah di sana,” katanya.

Hanya saja terkait drainase sampai saat ini masih terkoneksi ke Hertaco, sehingga limit volume tidak dapat ditampung lagi. Sementara drainase penyaluran umum di Hertasning masih dalam tahap proses pengerjaan. Soal fasilitas olahraga dan taman bermain yang sampai saat ini dikeluhkan masyarakat, Idris mengkalim telah melengkapi fasilitas tersebut sesuai yang dijanjikan.

Hanya saja fasilitas olahraga yakni kolam renang diakuinya belum rampung. Sebab masih menunggu kesiapan suplay air bersih dari PDAM. Jika kesiapan PDAM sudah ada kolam itu akan rampung segera. Sementara untuk lahan taman bermain bagi anak-anak, ukuran luasnya memang seperti itu dan tidak ada kaitannya ukuran lahan bermain menyempit karena pembangunan beberapa unit perumahan.

Idris juga mengakui jika sampai saat ini belum menyerahkan fasum-fasos ke pemerintah dengan alasan pembangunan belum rampung akibat pelemahan ekonomi. (Radar Makassar)